Selasa, 10 April 2012

Ibu Ku, Pahlawan Ku.


Assalamoo alayqoomm..


Bukan ingin pamer derita..

Aku hanya ingin bercerita..

Cerita ini aku petik di masa lalu ku..

Yang dulu meninggalkan luka..






Dulu waktu ku masih kecil. Ibu bertanya kepadaku. 

Ibu: "Nak, kalau sudah dewasa mau jadi apa''?

Aku: "Yang pasti menjadi apa yang Ibu inginkan." (Jawab ku).

Ibu: Kau lihat perbuatan Ayah-mu kepada Ibu seperti apa? Kau tengok tidak baik, jangan pernah kau ikuti. (Pesan Ibu Sewaktu Aku Masih Kecil).


Aku, adik, kakak, & Ibu ku, ditinggal seorang Ayah, itu semenjak umur ku 9 tahun sampai 15 tahun, terus terang aku kurang kasih sayang Ayah.


Kakak: Sudahlah itu masa lalu, biar bagaimanapun perbuatan Ayah kepada Ibu dan kepada kita, Ayah,masih tetap Ayah kita. (Pesan Kakak Kepadaku).


Saat itu aku hanya bisa menangis dengan adik ku 2 orang lagi, saat ku melihat Ayah ingin membunuh Ibu, di depan anak anaknya. Masa kecil ku.


Ibu Tiri: "Bilang sama Ibu kamu, jangan jadi wanita jalang yang suka merebut suami orang." (Marah Ibu tiri kepada ku).


Saat itu aku masih kecil, dan tidak tahu siapa yang merebut Ayah, ku, dari pelukan Ibu kandung, atau Ibu tiri ku.


Aku: "Ibu, kenapa Ibu tidak menikah lagi seperti Ayah?" (Aku yang belum mengerti apa arti hidup). Ibu, hanya tersenyum menjawab pertanyaan ku.

Dimana saat aku terjatuh, Ibu dan Ayah yang aku butuh. Namun Ibu ku tidak menyadarkan diri saat Beliau melihat kaki kanan ku terbelah lebar. Ayah sudah diberi kabar, namun beliau tak datang juga melihat anaknya yang sudah masuk RS UGD. Saat itu Ayah ku, di mabuk cinta dengan janda kembang.


Aku: Tolong. Hentikan. Sudah. Teriakku saat kaki kanan ku harus dijahit 50 jahitan. Bukan itu saja yang terkena seng atap rumah kandang nenek ku. Kepala, kaki kanan, tangan kanan, semuanya di jahit. Aku hanya bisa memanggil Ibu. Ibu... Ibu... Tolong... Sakit... Teriakku sekerasnya. Sehingga aku tidak bisa masuk sekolah selama 2 bulan. Waktu itu umur ku masih 10 tahun. Makan, minum, mandi, semua Ibu yang mengurusku.


Aku: "Ibu, Ayah kenapa tidak pulang? Aku mau kita berkumpul. Ayah sudah tau kabar ku, Ibu?" (Tanya ku begitu tersenyum kepada Ibu).

Ibu, hanya diam tidak bisa menjawab. Saat itu Ibu juga tidak tahu kabar Ayah pergi entah kemana, sudah di beri kabar tapi tak mau tahu. 

Ibu: “Besok kamu bagun pagi lebih awal. Kita latihan berjalan. (Ucap Ibu, sambil mengecup keningku).








 Ini bukti kaki kanan aku yang dulu, masih tersisa bekas luka yang dulu aku alami






Setelah sudah berapa lama aku sakit, Ayah pun pulang.

Ibu: "Pergi kau dari rumah ku, dasar lelaki anjing, tidak tahu diri." (Emosi Ibu keluar).


Perkelahianpun di mulai dan berakhir luka. Malam pun tiba, dimana semua keluarga sudah pada tidur.

Esoknya. ..

Ayah: "Siapa mencuri uang ku? Itu buat laporan berita hari ini, kau, kau ambil uang ku, kembalikan." (Emosi Ayah kepada Ibu).

Ibu: "Hey lelaki tidak bertanggung jawab, uangmu sudah aku bayar untuk biaya pengobatan anakmu, kau lihat itu anakmu, kakinya luka" (Jawab Ibuku).


Saat itu Ayah ku salah satu wartawan di Sumut dan cukup terkenal di kota kelahiranku.

Entah mengapa setiap Ibu dan Ayah tidak pernah akur saat bertemu, selalu perdebatan yang keluar.


Ibu: "Kalau kau mau kawin, nikah, mau berapa kali silahkan, tapi bawa anakmu yang 4 orang ini, kau harus bertanggung jawab." (Emosi Ibu lagi).


Kalau aku mengingat masa itu, hanya menangis dan berdoa yang bisa aku lakukan. Hari demi hari, aku pun sudah mulai pandai berjalan dengan sendirinya. Aku bahagia sekali karena sudah mulai masuk sekolah lagi. Setelah 2 bulan aku sakit, dan 2 bulan lebih aku sudah masuk sekolah, dan senin esok pun datang ujian sekolah.


Aku: "Ibu, besok senin, aku ujian sekolah, tapi aku tidak bisa ikut ujian sebelum uang sekolah di bayar dulu selama 7 bulan." (Tegur ku pada Ibu).

Ibu: "Iya, bilang saja sama Guru, nanti pasti di lunaskan, kamu esok masuk saja dulu." (Jawab Ibu, tersenyum lebar).


Seninya pun datang, bahagia ku pun berkibar. Karena hari ini masuk sekolah ujian, sesampainya sekolah, aku tidak di beri masuk oleh Ibu Guru. Di pagi itu juga aku pun pulang ingin beri kabar kepada Ibu, kalau aku tidak di beri izin masuk ujian karena belum melunasi uang sekolah.


Aku: Ibu (Tangis) Aku tidak di izinkan masuk ujian. Akupun pergi kekamar menangis melampiaskan kesedihan ku. Malam pun tiba, Ayah pun pulang ke rumah dengan mabuknya. Ya. Ibu menyambut ke datangan sang Ayah, karena Ibu tidak sabar ingin memarahi Ayah.


Ibu: "Kau kawin bisa, kau beli baju baru, sepatu baru, semua kau beli barang barang baru, tapi kau tidak bisa melunasi uang sekolah anakmu. Mana tanggung jawabmu? Keluar dari rumahku ini, dan bawa semua anak anakmu ini, dasar lelaki tak tahu diri." (Amarah Ibu begitu menangis).


Esoknya.. Dan akhirnya Ayah segera melunasi uang sekolah supaya aku ikut ujian. Tapi kata, Ibu, "Ayah mu kurang bertanggung jawab gara gara wanita jalang itu." Akhirnya setahun berlalu, Ibu sudah tidak kuat lagi menghadapi kelakuan dan sifat Ayah yang egois, pemarah, dan kurang rasa tanggung jawab. 2 bulan sebelum bulan ramadhan, Ibu memutuskan untuk pergi traveling ke Malaysia, ingin menemui kakak pertama dan keduan, aku. Disitu aku tambah sedih, di mana Ayah tidak pernah lagi memperhatikan anak anaknya semenjak mengenal wanita jalang itu dan di tambah lagi Ibu pergi keluar negeri.

 

Terdengar di telinga ku saat lelap dalam tidur.


Ayah: "Dulu kau meminta cerai, dan sekarang sudah aku ceraikan kau. PUAS?"

Ibu: "Itu waktu kita punya anak 2 dan sekarang anak kita sudah 6, aku terima ceraimu, bawa semua anakmu, dan pergi dari rumahku, dengan wanita itu." (Jawab Ibu ku).


Tidak mengenal siang, mau pun malam, dan setiap kali Ayah dan Ibu bertemu, selalu tidak akur, ada saja yang di perdebatkan. Ibu ku tidak meminta apa apa kepada Ayah, cuma satu yang di harapkan Ibu, "KEADILAN." Kalau Ayah ingin nikah berapa kali, silahkan, yang penting Ayah bertanggung jawab pada anaknya dan menafkahi anaknya tiap hari. (Curhat Ibu). Dimata ku. Ibu selalu bersabar, shalat malam, berdoa meminta kepada Illahi, supaya pintu hati Ayah, di bukakan dan di beri jalan yang lurus. Ibu selalu mencoba dan mengikhlaskan perlakuan Ayah yang selalu menyakiti hati Ibu. Dan Ibu sering kali menangis di depan anak anaknya, saat Ayah mencaci maki Ibu. Aku tak tahu entah setan apa yang masuk ke dalam hati Ayah. "Silahkan jika kau mau tidur tempat istri mudamu, tapi, nafkahi anakmu, hanya itu yang aku harafkan padamu." (Pembicaraan Ibu dengan Ayah). Biar anak yang aku jaga, tapi tolong kau beri uang belanja tiap hari dan tiap bulan untuk jajan dan biaya sekolah anakmu." (Percakapan Ibu). "Ibu selalu terbangun tengah malam, shalat berdoa, meninta kepada Allah, supaya selalu di kutkan bathin ini dan  di beri kesabaran." (Curhat Ibu).

Bahakkan Ibu pernah bercerita pada ku, sangkin Ibu setress memikirkan masalah yang selalu menghadangnya. "Ibu keluar jauh malam, tanpa sendal, dan Ibu berjalan kaki berkilo kilo meter hanya untuk mencari Ayah mu, nak." (Curhat Ibu Kepada ku). Disitu aku baru sadar, betapa besar percuangan Ibu, untuk ku, dan adik adik ku. Di mana aku tertidur dalam lelap ku, Ibu terbangun tengah malam hanya untuk mencari Ayah, di kedai kedai haram (Club) itu tersebut. Terkadang aku berfikir sejenak, mempunyai Ayah seperti itu, suka minuman alkohol yang sudah kecanduan, tapi bagaimana pun dia tetap Ayah ku. Aku selalu berdoa supaya Ayah di ampukan dosa dosanya apa yang telah Ayah perbuat selama hidupnya. Amin.



Tak tahu apa yang di dalam benak Ayah, entah kenapa Ayah mau saja melakukan apa yang di katakan Ibu tiri ku. Ayah seperti di bawah bendera. Entah lah. Hanya Allah yang tahu jawabannya.



Tiap pagi aku harus bangun sekitar pukul enam lewat, tapi bukan pergi sekolah, tapi meminta uang belanja terlebih dahulu. Itu yang sering kami lakukan secara bergantian aku dan kakak ku yang nomor tiga, tiap pagi harus meminta uang belanja ke tempat Ibu tiri ku. Seperti pengemis. Meminta. Padahal yang kami minta adalah hak kami. Saat itu Ayah, sangat tega sekali berbuat itu pada anaknya sendiri. Ayah selalu membela wanita jalang itu, yang jelas jelas salah, namun Ayah tetap membela wanita itu daripada kita anaknya sendiri. Saat wanita gila itu mencaci maki Ibu ku, dan bahkan ingin memukul Ibu, Ayah hanya bisa diam, tidak bisa berbuat apa apa. Ayah jahat. Saat itu aku tidak bisa berbuat apa apa, karena umur ku waktu itu masih kanak kanak. Aku sedih melihat Ibu, yang sering di sakiti Ayah.


 

Tidak ada yang bisa membantu Ibu, saat itu kakak aku yang pertama dan yang ke dua, sedang bekerja di luar negeri (Malaysia). Sungguh pahit jika ku kenang masa masa itu, jika Ayah berbuat itu ketika aku sudah dewasa, mungkin nyawa Ayah melayang di tangan ku. Biar di bilang anak durhaka. Terserah orang mau bilang apa kepada ku, yang penting aku tidak melihat Ibu menangis lagi gara gara Ayah ku.



Setiap pagi, aku di bangunkan Ibu dari tidur lelap ku.

Ibu: "Nak, Pergi ke tempat Ayah, minta uang belanja dan jajan untuk hari ini. Jangan pulang sebelum dapat uang belanja (jajan) untuk hari ini. (Pesan Ibu, Kepada ku). Kalau Ayah mu tidak memberi uang belanja hari ini, jangan pulang ke rumah, mau makan apa kita hari ini? Kalau Ayah membilang tidak ada uang belanja untuk hari ini, di tunggui, sampai Ayah mengeluarkan uangnya untuk kita. Jangan percaya kalau wanita jalang itu mengatakan: 'Ayah mu tidak ada (Tidak pulang kerumah). Wanita gatal itu pembohong, sama seperti Ayah mu. Ayah mu pasti ada di dalam kamarnya, dia mencoba menyembunyikan Ayah mu. Wanita itu sudah memisahkan Ibu dengan Ayah mu, dan sekarang dia mau mencoba ingin memisahkan kamu dengan Ayah mu (Anak anaknya). Pokoknya apa yang disetiap dia (Ibu tiri) katakan, jangan percaya, dia Pembongak (Pembohong) (B. Daerah Tanjungbalai-Asahan-Sumut). Kalau bisa, tiba kau sampai di rumahnya dan ketika kau melihat pintu terbuka, kau langsung saja masuk rumah dan masuk kamar, cari Ayah mu di dalam kamarnya.



Aku tahu sebenarnya Ibu tidak tega membangunkan dari tidur lelap ku, di mana seharusnya aku harus pergi sekolah, bukan ke tempat Ayah, di pagi itu. Sewaktu itu aku belum punya sepeda, kakak ku juga, terpaksa meminjam sepeda dengan adik atau kakak, dari Ibu, ku. Dan setiap kata kata Ibu yang aku dengar, di balik cerita tentang Ayah, ku. Benar yang Ibu katakan, "Ayah, ku, seorang pembohong besar. Sama halnya seperti film. Memang ada hal yang sama di balik sebuah film. Kalau lelaki punya istri lebih dari satu, harus pintar berbohong. Seperti itulah yang setiap pagi aku kami lakukan, aku dan kakak ku. Cukup sedih bila di kenang. Cukup pahit bila di rasa.



Pernah suatu saat aku pergi pagi itu ketempat istri mudah Ayah. Tiba aku sampai di rumah wanita itu, aku seperti di lecehkan. Wanita gila itu hanya memberi uang belanja lewat jendela kaca, lalu di jatuhkan ke bawah. Dia tak ingin membuka pintu rumahnya. Dia tak ingin aku bertemu dengan Ayah ku. Tak tahu apa yang dia inginkan dari Ayah ku. Padahal Ayah ku dari keluarga menengah ke bawah, keluarga yang biasa biasa saja. Tapi kenapa wanita itu tergila gila dengan Ayah ku? Memang banya orang berkata kalau Ayah ku orangnya pendiam, tidak banya cerita, dan banyak orang berkata Ayah ku cukup tampan rupawan.




Sebelumnya, waktu Ibu ku masih hamil muda, Ayah juga pernah bermain cinta dengan wanita lain, tapi tidak sampai nikah. Tapi Ibu masih sabar, dan terus berjuang untuk anak anaknya, waktu itu Ibu lagi mengandung anak yang ke tiga, dan aku waktu itu belum lahir. Ibu ku, banyak menceritakan hal tentang Ayah ketika aku mulai tahu membedakan mana yang baik, dan yang mana yang buruk. Ibu ku, pahlawan ku. Waktu aku kecil, Ibu tidak tahu harus bercerita kepada siapa, semua kakak, adik, Ibu, sibuk dengan rumah tangga masing masing. Ibu hanya bercerita kepada Allah, lewat doa, dan sujud Ibu, tengah malam. Supaya Ayah selalu pulang melihat anak anaknya dirumah bermain, berkumpul bersama. Aku tidak tahu saat itu hati Ibu terbuat dari apa? Aku tidak bisa di membayangkan betapa lamanya Ibu di tinggalkan Ayah, tanpa cerai. Semenjak aku duduk SD (Sekolah Dasar) kelas 2, samapi aku tamat sekolah MTS (Madrasah Tsanawiyah Swasta) kelas 3. Selama itulah berbuatan Ayah kepada Ibu, hubungan tanpa status, bercerai tidak, tapi di gantung, aku pun bingun menjabarkannya entah apa. Setiap Ibu bertemua dengan Ayah. Ibu selalu menangis dan berkata: "Ceraikan aku, dan bawa anak anak mu ini dan pergi dari rumah ku." (Ibu). Ibu pernah bercerita tentang Ayah. Ayah orangya dulu sangat pembersih, tapi entah kenapa semenjak Ayah mu mengenal wanita itu, Ayah berubah jauh, sangat jauh. Buat ku. Ibu bukan hanya sekedar sesosok Ibu saja, tapi juga seorang guru, seorang sahabat, dan seorang penasehat. Aku sayang kamu, Ibu. Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan seorang Ibu seperti beliau. Di mana saat aku menangis, tertawa, Ibu selalu ada untuk Sering kali Ibu berpesan pada ku. "Bermodal jujurlah jadi seseorang, hal sekecil apa pun, ceritakanlah apa adanya, dan jangan mengada." Ibu. ku.



Ku tungkah sepeda itu. Untuk menuju Ayah di rumah Ibu tiri ku. Sebelum sekolah aku pergi. Pergi ketempat Ibu tiri. Itu ulaman ku setiap pagi. Hari berganti hari. Aku dan kakak pergi ketempat Ibu tiri. Secara berganti. Waktu itu aku tidak tahu sampai kapan akhir dari semua ini. Apakah berakhir sini, atau sampai mati?


Sesampainya di rumah wanita setan itu.

"Tok tok tok." (Suara ketok pintu).

"Assalamu'alaykummmm.." (Salam ku di luar rumah Ibu tiri).

Tak cukup sekali, dua kali, atau tiga kali, aku mengetok pintu, harus berulang kali aku melakukan itu, agar Ayah bertemu dengan ku. Aku cuma ingin menyampaikan pesan Ibu ku ke pada Ayah. Pesan itu ku sampaikan, tidak mengurangi, dan juga tidak melebihi. Krecek. (Suara kunci).

Pintu pun terbuka.

Tapi yang bukan pintu bukan Ayah ku, melainkan anak Ibu tiri ku, atau wanita itu. Ya. Aku masih ingat nama anak anak dari Ibu tiri ku. Sari, Reni, dan Ayu. Tiga tiganya perempuan. Anak yang petama (Sari) dia juga merebut suami orang, dan juga dia gagal berumah tangga, sama halnya seperti Ibu nya, wanita jalang itu. Ya. Reni, dan Ayu, masih sekolah. Kurang tahu aku keluarga mereka seperti apa. Yang pasti Ibu ku bercerita, wanita itu gagal berumah tangga. Kadang, Ayah cuma menitipkan uang kepada wanita itu, tak tahu entah apa maksud Ayah. Dan terkadang, Ayah sendiri yang memberi uang belanja itu. Tapi uang itu kurang untuk belanja, karena apa apa sudah mahal. (Kata Ibu).


 

Tak tentu Ayah memberi uangnya, semau Ayah memberi uangnya. Tak tahu apakah memang itu saja uang Ayah atau Ayah tidak memberi uang semuanya. Sewaktu aku masih kecil hingga dewas saat ini, aku merasa aku tidak pernah mendapat pelukan hangat atau ciuman yang di berikan Ayah pada ku. Apa mungki aku pernah dapat ciuman atau pelukan dari Ayah, sewaktu aku masih bayi. Atau ketika aku di lahirkan? Mungin aku bisa menemukan jawaban itu dari Ibu ku. Apakah aku pernah di cium dan di peluk, sewaktu aku bayi, apa tak pernah sama sekali? Sayangnya. Aku belum pernah menanyakan langsung hal ini kepada Ibu ku, atau aku langsung saja menanyakan kepada Ayah? Teringat kata kata Ibu pada ku.


Ibu: "Melihat Ayah mu sekarang, iba melihatnya, sudah tua, dan sudah tidak layak untuk bekerja lagi. Tapi disisi lain, mengingat masa lalu, perbuatan Ayah mu sangat pedih, tega, duka, dan tangisan yang dia berikan untuk kita. Semua orang orang, dia repotkan gara gara ulah Ayah mu, sampai saudara Ibu, ikut campur rumah tangga kita, itu semua karena Ayah mu. "Dulu waktu Ibu masih punya anak dua, Ayah mu seminggu dua kali ganti alas tilam, dan sekarang tidur tanpa tilam." (Cerita Ibu pada ku). Iya. Ayah mu begitu rupayan, kalau masalah Gaya, kau lihat saja sendiri, tetap masih menarik walau pun sudah tua. Sekarang lihat adik mu yang paling kecil (Rezcky Setiawan). Dia terlihat Cina Melayu, sama persis seperti Ayah mu. (Curhat Ibu). Cuma warna kulit saja yang berbeda, kulitnya seperti Ibu, wajahnya saja seperti Ayah mu. Sekilas cerita Ibu ku tentang Ayah. Tapi itu dulu, sekarang Ayah berubah jauh lebih buruk dari sebelumnya.


Dulu. Waktu naik naikan kelas. Aku berharap sekali Ayah yang mengabil nilai akhir sekolah ku, supaya Ayah tau nilai ku berapa. Waktu SD. Tapi faktanya berbeda dengan apa yang aku harapkan, setiap pengambilan nilai sekolah, aku selalu tidak datang. Dimana semua orang tua kawan kawan ku, pada berkumpul, betapa bahagianya mereka. Meliat, dan menyaksikan nilai anak anaknya.


Ibu: “Tak tahu Ayah mu masih ingat waktu dia masih punya anak dua dulu, apa sama sekali tidak ingin mengingat.”

Ayah: "Selalu kau ingat ingat itu, kau ungkit ungkit masa lalu ku.”

Ibu: "Kau sudah ku maafkan, tapi bukan berarti aku melupankan apa yang telah kau buat dulu pada ku, anak ku, dan saudara ku.”


Setiap malam, kami hanya berkumpul dengan Ibu, adik, kakak, tanpa Ayah. Tapi aku masih tetap merasa bahagia, karena belum mengerti apa apa.


Ibu: “Kalau masalah hidup, makan sehari hari, itu tidak masalah bagi Ibu sendiri, karena Ibu mempunyai kakak yang sangat banyak. (Curhat Ibu). Memang benar. Ibu ku keteurunan dari orang kaya. Ibu ku anak yang ke delapan dari sembilan. Dan Atok dari Ibu ku, mempunyai istri sembilan, dan dari istri yang pertama mempunyai anak sembilan, termaksud Ibu ku. Tapi Atok ku berlaku adil dengan istrinya, tidak seperti Ayah ku. Sayangnya, aku sedikit ingat cerita tentang Atok ku. Dulu waktu aku belum sekolah, aku masih ingat sekali, Atok tinggal di rumah istrinya yang nomor sembilan, tepatnya di samping rumah ku. Istri Atok ku ini, mempunyai anak satu (Khairuddin). Aku memanggil dia Bapak, dia sering sekali menasehati ku, dalam segala apa pun. Dia (Adik Ibu ku) juga sering membantu Ibu, hingga sekarang. Cuma itu saja yang aku ingat tentang Atok.Seandainya aku bisa terbang ke masa lalu, membunuh waktu saat Ayah menyakiti hati Ibu saat bertemu, lalu tak ada rindu yang pilu.



Ibu: "Kamu itu Lelaki, tunjukkan pada mereka kalau kamu itu kuat, berani, dan bertanggung jawab, jangan bersedih sedih, tidak ada gunanya. Anak ku 5 laki laki, semuanya harus berani, jangan mau kalau dengan wanita jalang itu, jangan dengarkan semua perkatannya. Cukup saja Ayah mu yang terpengaruh dengan apa yang setiap dia katakan, jangan sampai anak anak ku ikut sama sepeti Ayah nya. Wanita itu pernah berkata pada Ibu, kalau Ibu main dukun, supaya Ayah mu kembali kepelukan Ibu. Lalu. Ibu pun tertawa saat wanita gila itu mangatakan kalau Ibu bermain dukun, padahal perempuan itu sendiri yang suka bermain dukun. Dia samakan aku dengan dirinya. Itulah orang kalau berbuat jahat, selalu beranggapan kalau seseorang berbuat jahat, sama sepertinya. Ibu masih punya Allah. Ibu masih bisa meminta pada-Nya. Kenapa harus ke dukun, bukankah dukun itu juga ciptaan-Nya? Semua dukun pendusta, ke dukun 1, dia cakap A. Ke dukun 2, dia cakap B. Ke dukun 3, dia cakap C. Lalu. Dukun mana yang harus di dengar? Hanya orang bodoh yang percaya dengan duku, hanya orang buta yang percaya dengan dukun, sumbernya dia belum mengenal siapa Allah. Kau tahukan Allah Maha Segalanya? Lalu kenapa kau pergi ke dukun hanya untuk meminta sesuatu?




BERSAMBUNG !!! 






Ooppss.. Ini Ibu, aku. Bagaimana menurutmu? 
Cantik kan? 
Ha ha ha...
Sudah Tua yaaa.. :* 


Nanti aku cerita lagi kalau ada waktu, maaf kalau ada kata dan tulisan ini yang salah, karena aku juga manusia biasa.




Wassalam... 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar